Air RO solusi Air Bersih dan Layak Minum di Tanjungpinang Kepri

July 1, 2015

Pada saat musim kemarau di awal tahun 2014 di Tanjung Pinang kemarin, masyarakat Tanjungpinang Kepulauan Riau (Kepri) benar-benar telah merasakan kehidupan yang sangat sulit akibat kekeringan yang panjang. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan di pulau jawa dimana curah hujan pada saat ini sedang tinggi-tingginya yang bahkan kita sering mendengar berita bahwa di pulau Jawa sana sering terjadi banjir. Sudah sangat umum memang bahwa kondisi cuaca khususnya yang berhubungan dengan curah hujan di Tg.Pinang bertolak belakang dengan kondisi di Pulau Jawa.

Karena efek dari musim kering yang rutin terjadi di Tanjung Pinang tersebut Pemko Kota Tanjungpinang menggagas program penyediaan air bersih dengan cara menyuling air laut menjadi air layak pakai bahkan layak di konsumsi dan di minum menggunakan teknologi penyaringan tingkat tinggi, yaitu teknik penyaringan dengan menggunakan saringan Reverse Osmosis atau yang lebih dikenal dengan nama RO.

Program penyulingan menggunakan sistem penyaringan RO diatas dimulai pada tahun 2011 dimana program pertamanya dilaksanakan di Pulau Penyengat, tepatnya di Kampung Bulang. Dimana di awal program tersebut berjalan sangat memberikan efek positip yang banyak bagi masyarakat penyengat dalam hal penyediaan air layak pakai. Namun sangat disayangkan keadaannya pada tahun 2014 kemarin sudah tidak beroperasi lagi. Sehingga penyediaan air bersih dari hasil penyulingan air laut menggunakan teknologi penyaringan Reverse Osmosis berhenti.

Proyek Penyuliangan Air Laut Reverse Osmosis (RO) Terkendala Listrik

October 21, 2014

Tanjungpinang,Sidaktoday.com – Pembangunan Proyek Reserve Osmosis (penyulingan air laut menjadi air minum) yang berada di komplek Lantamal IV Kota Tanjungpinang sudah selesai dibangun Kementerian Pekerjaan Umum pada tahun 2013 yang lalu melalui satker Air Minum Provinsi kepri. “Namun hingga saat ini hasil proyek tersebut belum bisa dinikmati warga Tanjungpinang yang begitu mengharapkan layanan air bersih.

Terkendalanya adalah ketidak tersedianya pasokan listrik untuk menghidupkan instalasi mesin RO di komplek Angkatan Laut Tanjung Pinang itu sendiri. Tampaknya Permasalahan tersebut sepertinya tak bisa diatasi dalam waktu dekat. Sebab PLN Area Tanjungpinang yang sebelumnya siap memasok daya listrik sekitar 1 megawatt untuk mesin RO, akhirnya membatalkan lagi rencana tersebut atas larangan PLN Pusat.

Saat kunjungan Menteri PU ke Tanjungpinang (6/6). Djoko Kirmanto, mengatakan bahwa, permasalahan listrik bukan merupakan tanggung jawab kami, melainkan daerah. Dia menegaskan, Kementerian Pekerjaan Umum sudah membangun instalasi penyulingan air laut menjadi air minum. Penyediaan instalasi listrik untuk pengoperasian mesin RO tersebut,Djoko menyampaikan, seharusnya menjadi tugas Pemerintah Daerah (Pemda).

Djoko juga mendapatkan laporan bahwa instalasi air minum di daerah ini sudah rusak, banyak pipa sudah bocor. Maka kami bangun proyek RO. Kontraknya sudah selesai.”

“Fisiknya sudah hampir selesai dikerjakan. Namun, instalasi itu belum bisa dipakai karena sumber daya listriknya yang belum ada.”

“Makanya sekarang harus diupayakan agar sumber daya listrik ada sehingga instalasi ini bisa dioperasikan. Soal listrik memang bukan wewenang saya,” ungkap Djoko ketika meninjau proyek RO di komplek Lantamal IV Tanjungpinang, Jumat (6/6)kemarin.

Djoko sendiri menargetkan setelah proyek fisik selesai dikerjakan, instalasi RO ini langsung segera dioperasikan. Namun, terget tersebut diakuinya tidak bisa diwujudkan karena kendala sumber daya listrik. Dia sekali lagi menegaskan bahwa Pemda harus bisa mengatasi kendala listrik yang ada agar instalasi RO ini bisa secepatnya dioperasikan.

Djoko juga mengatakan, Kementerian Pekerjaan Umum sudah menyediakan fasilitas airnya. Jika kami siapkan listriknya lagi maka nanti di daerah-daerah lain juga kami harus sediakan juga listriknya.”

“Kita bagi tugas dan Pemda harus bisa atasi masalah listrik. Dulu ada perjanjiannya, kita siapkan pipa-pipa induk, PDAM siapkan pipa-pipa ke rumah-rumah warga dan Pemda siapkan listrik. Kementerian PU tidak boleh siapkan semuanya,” Ungkapnya.

Menurut Rudy Chua, anggota DPRD Kepri yang ikut dalam peninjauan, mengatakan, sebenarnya ada 2 permasalahan yang dialami saat ini terkait proyek RO yakni persoalan ekternal dan internal.

Permasalahan eksternal yang dimaksudkan Rudy adalah kendala sumber daya listrik untuk pengoperasi instalasi RO ini. Menurutnya, awalnya pihak PLN Area Tanjungpinang sudah menyetujui akan memasok daya listrik ke dalam instalasi RO.

Namun, persetujuan tersebut malah dibatalkan lagi pada 3 hari lalu atas intruksi PLN Pusat. Karena, sudah dari dulu, PLN Area Sumatera tidak diperkenankan oleh PLN Pusat untuk melayani kebutuhan listrik bagi proyek-proyek lainnya.

“Makanya untuk bisa mengatasi masalah ini, kita hanya bisa mengharapkan pasokan listrik dari PLTU Galang Batang,” komentar Rudy.”Sedangkan permasalahan internalnya terkait biaya produknya. Sampai saat ini belum dibicarakan berapa biaya produksi instalasi mesin Reverse Osmosis (RO) yang harus dibayar oleh masyarakat.” Makanya, nanti dalam waktu dekat, akan ada pembicaan antara Pemda, PDAM Tirta Kepri dan PT Artha Envirotama sebagai pengelola terkait biaya produksi yang harus dibayar oleh masyarakat,” tegas Rudy.(TB)

sumber : http://sidaktoday.com/proyek-resesrve-osmosis-ro-penyulingan-air-laut-tanjungpinang-terkendala-listrik

Depot Air Minum Diduga Mengandung Bakteri E-Coli

September 29, 2014

Karena diduga mengandung bakteri E-coli, yaitu bakteri yang menyebabkan diare pada manusia, Dinas Kesehatan Kabupaten Lingga membekukan pengoperasian depot air minum isi ulang di Kecamatan Singkep Barat. Pembekuan operasi dilakukan sampai ada  hasil uji laboratorium terkait dugaan produksi air minum galon yang mengandung bakteri e-coli. Selain diduga mengandung bakteri, depot air minum tersebut juga tidak menjaga kebersihan depot tempat usahanya. Sehingga menambah faktor penunjang sebab dibekukannya depot tersebut.

“Untuk sementara waktu, kami meminta pemilik depot untuk menunda pendistribusian air minum kepada masyarakat. Hasil pemeriksaan laboratorium pada sampel air dari salah satu depot, kami mendapati air tersebut mengandung bakteri e-coli,” ujar Kepala Seksi Lingkungan Dinkes Kabupaten Lingga Sri Dewi, Senin (24/3).

Awalnya, pihak Dinkes hanya melayangkan surat pembekuan bagi operasional depot air minum tersebut. Sepertinya, peringatan ini tidak diacuhkan oleh pemilik depot. Maka, Dinkes Kabutapan Lingga mengambil langkah tegas dengan menutup tempat usaha tersebut.

”Kami sudah melakukan pengecekan ke depot. Kami menemukan lumut pada pipa pengisian ke galon. Di samping itu, depot bersebelahan dengan toko bahan bangunan. Inilah yang diduga mempengaruhi kualitas air minum,” ungkapnya.

Berdasarkan data dilapangan Dinkes di Kabupaten Lingga sangat kewalahan melakukan pembinaan terhadap para pelaku usaha air minum isi ulang. Pasalnya, beberapa tempat usaha ini banyak yang tidak mengikuti peraturan tentang kebersihan. Padahal kebersihan adalah syarat utama agar kualitas air minum yang diproduksi tetap baik dan terjaga.

Berbeda dengan depot air minum Reverse Osmosis DIAN-RO Tj Pinang yang selalu menjaga kebersihan tempat usahanya. Alhasil segala perizinan yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang dapat dengan mudah didapat.

Sumber : Tanjungpinang Pos, dengan sedikit tambahan.

Air Galon RO DIAN-RO Naik Harga Rp.8.000

August 21, 2014

Sejak 15 Agustus 2014 harga air minum galon isi ulang dengan teknologi penyaringan reverse osmosis (RO)  DIAN-RO naik harganya, dari yang tadinya Rp.7.000 pergalon menjadi Rp.8.000 pergalon, dimana harga tersebut sudah termasuk biaya antar untuk wilayah kota Tanjungpinang. Kenaikan harga ini dikarenakan biaya operasional yang juga naik, terutama kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) PLN. Faktor lain yaitu nilai rupiah yang semakin anjlok terhadap nilai dollar (US dollar dan Singapore dollar) dimana berkaitan dengan sparepart pompa RO maupun alat-alat penunjang operasional lainnya yang harus dibeli berdasarkan harga dollar.

Demi tetap terjaganya kualitas dari produk air minum galon isi ulang DIAN-RO dan untuk menjaga kepuasan pelanggan yang sudah mengenal air minum reverse osmosis, maka dengan berat hati kami harus menaikkan harga jual pergalon air minum galon RO, baik yang dijemput maupun yang diantar.

DIAN-RO Depot air minum isi ulang dengan teknologi penyaringan reverse osmosis (RO).

Jl.Anggrek Merah, depan perumahan Anggrek Mas I, ruko no.5, Tanjung pinang, Kepulauan Riau (Kepri)

Kemarau Omzet Depot Isi Ulang Air Minum Tanjungpinang Meningkat

June 4, 2014

Bintan – Tanjungpinang, Isukepri.com – Musim kemarau yang melanda wilayah Kepulauan Riau khususnya Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang dalam beberapa bulan terakhir ini membuat omset depot isi ulang air minum meningkat. Dimusim kemarau berkepanjangan seperti ini juga berdampak pada permintaan isi ulang air minum.

Menurut Ijal, salah seorang pemilik Depot isi air ulang ‘Tirta Qua’ di Bintan Timur Kabupaten Bintan, meningkatnya permintaan isi ulang air mineral disebabkan oleh krisis air bersih akibat kemarau.

“Permintaan isi ulang air mineral akhir-akhir ini memang mengalami peningkatan dibandingkan hari biasanya,” kata Ijal, Jumat (14/2).

Hal senada juga dikatakan Fauzan, yang juga pemilik depot isi ulang air minum di Tanjung pinang (TPI), Dirinya mengaku dalam sehari, sedikitnya ada 200 galon yang habis terjual.

“Sehari itu bisa 200 galon, padahal biasanya tak sampai segitu,” ujar Fauzan. (CR12)

Sumber; www.Isukepri.com

Instalasi Air Minum Reverse Osmosis RSAL Tanjungpinang

June 2, 2014

Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Tanjungpinang dalam proses pegembangannya akan membuat instalasi air layak minum. Peningkatan pelayanan air minum, Metode Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) menjadi pilihan. SWRO merupakan teknologi khusus pengolahan air minum dari hasil pengolahan air laut. Sebagaimana disampaikan oleh Gubernur Kepulauan Riau HM Sani dalam sambutannya ada 2 konteks penting dalam pelayanan prima untuk masyarakat, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan terbaik untuk masyarakat walaupun diketahui bersama dalam perjalanannnya belum bisa terpenuhi namun dalam pengembangannya harus terus di kembangkan terutama kebutuhan dasar masyarakat yaitu kebutuhan air dan kebutuhan kesehatan. Terutama untuk kebutuhan air minum merupakan kebutuhan yang sangat didambakan oleh masyarakat Tanjungpinang dan sekitarnya. Ketersediaan air baku yang semakin tidak memadai akibat dari jumlah penduduk yang semakin bertambah, mendorong untuk mengembangkan teknologi pengolahan air minum RO atau reverse osmosis yang salah satunya adalah SWRO ini. SWRO di Tanjungpinang ini merupakan pilot proyek yang terbesar dan sangat mendesak dengan kapasitas 50 liter per detik yang bisa memenuhi kebutuhan air minum untuk 4.000 pelanggan.

 

 

Pentingnya Sertifikat Laik Sehat Depot Air Minum

May 22, 2014

Tanjungpinag — Usaha air minum isi ulang di Tanjungpinang saat ini diyakini masih belum semua memenuhi prosedur kesehatan, salah satunya memiliki sertifikat laik sehat (SLS). Untuk itu masyarakat diminta teliti saat membeli air isi ulang. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang. Rustam, ketika ditemui di ruangan kerjanya kemarin mengatakan, seharusnya seluruh usaha air isi ulang mengurus sertifikat itu. Dengan adanya sertifikat laik sehat, baru bisa dipastikan air yang dijual benar-benar layak diminum. “Kalau di tempat penjualan air isi ulang galon tidak ada SLS, berarti tidak ada pengecekan dari Dinkes,”kata Rustam.

Biasanya sertifikat itu ditempel oleh pemilik usaha terseebut. Dengan begitu calon konsumen tahu, air yang dibeli itu benar-benar layak minum. Dikatakan Rustam, pihaknya melakukan pengecekan untuk mengetahui bakteri yang ada dalam kandungan air bersih. Pengecekan dilakukan tiga bulan sekali. Tak hanya airnya, alat yang digunakan juga dicek. Hanya pengecekan alatnya cuma enam bulan sekali. “Kita mengecek untuk melihat bakterinya. Kalau benar-benar nol (0) air bersih tersebut tidak ada mengandung bakteri,”sebut Rustam. Saat ini data yang ada di Dinas Kesehatan Tanjungpinang, ada 117 usaha tempat penjualan air isi ulang selalu dicek. Ke 117 usaha tempat usaha tersebut sudah memiliki SLS, kalau pemilik usaha tidak mengurus? Ketika tidak diurus, dikatakannya, akan diberi surat teguran dan selanjutnya dibina.”Untuk sementara ini masih dibilang relatif aman,”terangnya.

Depot air minum isi ulang DIAN-RO sejak berdiri telah mengantongi Sertifikat Laik Sehat (SLS) yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang tahung 2013. Pada tahun kedua beroperasinya depot air minum isi ulang dengan filtrasi teknologi reverse osmosis (RO) terbaru ini kami juga telah melakukan pengurusan izin yang harus diperbaharui setiap tahunnya. Hasil pengujian dan pengecekan air baku serta air hasil yang siap minum menunjukkan indikasi yang baik. Hal ini membuktikan air minum hasil pengolahan oleh depot DIAN-RO layak untuk diminum.

Air Minum RO DIANRO Naik Harga

January 9, 2014

Pengumuman…

Sejak Desember 2013 harga air minum isi ulang dengan teknologi penyaringan reverse osmosis (RO)  DIAN-RO naik harganya, dari yang tadinya Rp.6.000 pergalon menjadi Rp.7.000 pergalon, dimana harga tersebut sudah termasuk biaya antar. Kenaikan harga ini dikarenakan biaya operasional yang juga naik, terutama kenaikan BBM (bensin). Faktor lain yaitu nilai rupiah yang semakin anjlok terhadap nilai dollar (US dollar dan Singapore dollar) dimana berkaitan dengan sparepart maupun alat-alat penunjang operasional yang harus dibeli berdasarkan harga dollar.

Demi tetap terjaganya kualitas dari produk air minum isi ulang DIAN-RO yang memprioritaskan dalam memproduksi air minum reverse osmosis, maka dengan berat hati kami harus menaikkan harga jual pergalon antar.

DIAN-RO Depot air minum isi ulang dengan teknologi penyaringan reverse osmosis (RO).

Jl.Anggrek Merah, depan perumahan Anggrek Mas I, ruko no.5, Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri)

Upaya Peningkatan Kualitas Depot Air Minum Isi Ulang di Indonesia

March 25, 2013

Jakarta, 21 februari 2013

Upaya Kementerian Kesehatan RI dalam upaya peningkatan kualitas air minum isi ulang di Indonesia, yaitu akan membuat edaran kembali ke semua Kepala Dinas Kesehatan Provinsi tentang pelaksanaan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes), serta menyempurnakan pedoman penyelenggaraan Higiene Sanitasi yang sudah ada sejak 2006. Kemudian terus menjaga mutu Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL), yang kini sudah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), dan memasukkan kegiatan ini dalam pilar 3 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat  (STBM).

Demikian informasi yang di sampaikan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, melalui pesan elektronik kepada Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenkes RI (21/2).

Ada beberapa aturan yang sudah ada mengenai depot air minum isi ulang. yaitu mengenai persyaratan kualitas air minum yang sudah diatur di Permenkes nomor 492 tahun 2010 tentang  ambang batas parameter wajib, misalnya mengenai mikrobiologi seperti (bakteri e-coli), mengenai kimia seperti (unsur-unsur kimia  argon, fluor, crom, dll), dan yang tidak berhubungan langsung seperti bau, suhu, dll), serta parameter tambahan yang jarang ditemukan. Selanjutnya, persyaratan kualitas air bersih sudah diatur di Permenkes nomor 416 tahun 1990 tentang ambang batas yang dibolehkan, jelas Prof. Tjandra.

Sementara itu, mengenai izin untuk membuka usaha “Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) ” atau kini banyak disebut sebagai “Depot Air Minum (DAM) “, di berbagai provinsi dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat, biasanya melalui badan perijinan terpadu yang akan meminta rekomendasi dari Dinas Kesehatan setempat, berdasar inspeksi sanitasi dan hasil pemeriksaan laboratorium termasuk Balai POM, Balai Teknik Kesehatan Linkungan (BTKL), kata Prof. Tjandra.

Tata laksana pengawasan kualitas air minum diatur oleh  Permenkes nomor 736 tahun 2010, secara internal pengawasan kualitas air minum isi ulang dilakukan oleh pengusaha. Secara eksternal pengawasan dilakukan oleh Dinas Kesehatan, dengan melakukan pemeriksaan laboratorium (di Balai POM, BTKL, dll), dalam Permenkes ini diatur ttg sanksi oleh Pemda, berupa peringatan sampai dengan pelarangan distribusi di wilayah, tambah Prof. Tajandra. Untuk kota Tg pinang (Tanjungpinang) pengawasan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang (Tgpinang).

Menurut Prof. Tjandra Proses kegiatan di usaha Depot Air Minum antara lain, harus mendapatkan air bersih dari berbagai sumber (PDAM, air ledeng, mata air, mobil tangki air, dll), dilakukan filtrasi, bisa dengan karbon aktif, juga mungkin ada proses dengan ozon, proses akhir a.l dengan sinar UV, pengemasan ke galon air.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id.

sumber: www.depkes.go.id.

Jika Bisnis Depot Air Minum Isi Ulang Abaikan Standar Kesehatan

March 23, 2013

Yayuk Tika terdiam beberapa lama di depan galon kemasan air isi ulang di dispenser. Seingatnya, bukan merek di galon itu yang awalnya dipesan. Rasanya juga berbeda.

NURALI MAHMUDI – Tanjungpinang

Rupanya, sang suami yang memesan air isi ulang di tempat lain. Ketika dicoba, rasanya berbeda dengan langganan sebelumnya. Namun apa boleh buat, kata suaminya, dengan ukuran yang sama, fasilitas pengantaran yang sama, harganya lebih murah dari depot air yang biasa ia beli.

Tentu muncul kekhawatiran di hati Tika, apalagi ia memiliki dua anak kecil yang setiap hari mengonsumsi air tersebut. Sebenarnya ia mau masak air minum di perumahannya, di Batu 12, lancar. Sayang, air ledeng masih sering macet.

Sebenarnya, ada pertanyaan di hati Tika, khususnya seringnya galon kemasan air isi ulang yang berganti-ganti merek. Padahal yang mengantarnya kadang sama. Maklumlah, air kemasan isi ulang yang dikonsumsi keluarga Tika bukanlah merek unggulan yang iklannya selalu ditayangkan di televisi.

Soal harga tentu saja alasannya. Apalagi di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sekarang begitu mudah dijumpai usaha air isi ulang. Mereknya tentu saja beragam. Tika tak tahu mana yang bagus, nyatanya semuanya menawarkan harga yang nyaris sama. Yang membedakannya paling hadiah yang diberikan jika berhasil mengumpulkan sekian voucher isi ulang.

“Yang saya minum sekarang memang lebih murah, karena yang punya teman bapaknya anak-anak,” ungkat Tika, di sebuah pusat belanja, dua hari lalu sekitar pukul 17.00.

Mengapa rasanya beda, meski sama-sama air isi ulang? Seorang teman lama, pengusaha peralatan depot isi ulang mengatakan terdapat beberapa jenis alat yang bisa dibeli. Semakin mahal harganya tentu semakin bagus kualitas air yang dihasilkan.

Beberapa bagian juga diproduksi di negara maju, dengan kualitas yang mendukung kesehatan air yang dihasilkan. Ia memberikan paket-paket harga peralatan depot isi ulang. Dari harga di bawahg Rp10 juta hingga puluhan juta. Jika murah, filternya bisa tak sebanyak jika membeli paket yang agak mahal.

Ia juga mengakui, untuk membuat usaha air minum isi ulang sekarang sangat mudah. Izin dari dinas terkait, yaitu Dinas Kesehatan Tanjungpinang Kota, itu pasti sebagai tanda usahanya legal dan airnya memenuhi standar. Hanya saja ia menyayangkan jika ada pebisnis yang di kemudian hari memproduksi air asal-asalan hanya untuk mencapai target penjualan yang dikalkulasikan dengan gaji pegawai serta sewa tempat.

Beberapa tahun lalu, jika ingin membuka usaha air minum isi ulang, harus mencari sumber mata air di bawah bukit. Kalau di Pulau Bintan sekitar Gunung Lengkuas atau Gunung Bintan. Namun sekarang lebih enak, asalkan air ledeng hidup sudah bisa mencoba bisnis ini.

Teman ini kemudian menyodorkan beberapa hal seputar air minum isi ulang. Air yang layak minum mempunyai standar persyaratan tertentu, yakni persyaratan fisis, kimiawi, dan bakteriologis. Jika satu parameter saja tidak memenuhi syarat maka air tersebut tidak layak untuk diminum. “Misalnya rasanya aneh atau bau, ini erat kaitannya dengan teknologi yang dipakai oleh si penjual,” katanya.

Ia mengatakan, bisa saja pelaku bisnis ini memproduksi air tak lengkap prosesnya. Proses lengkap bisa dari air ledeng atau sumur dipompa dengan menggunakan pompa jet, sambil diinjeksi dengan larutan kaporit atau kalium permanganat. Dari sini air dialirkan ke tangki reaktor. Dari tangki reaktor, air dialirkan ke saringan pasir cepat untuk menyaring oksida besi atau oksida mangan yang terbentuk di dalam tangki reaktor.

Setelah disaring dengan saringan pasir, selanjutnya air dialirkan ke filter mangan zeolit. Di sini zat besi atau mangan yang belum sempat teroksidasi oleh khlorine atau kaporit dihilangkan. “Zat besi biasanya membuat air tidak enak kalau diminum,” katanya.

Sedangkan pembubuhan kaporit dimaksudkan untuk mengoksidasi zat besi atau mangan yang ada di dalam air, serta untuk membunuh kuman atau bakteri Escherichia coli atau lebih dikenal dengan E.coli. Reaksi oksidasi besi atau mangan oleh khlorine atau kaporit akan menghasilkan ion hipokhlorit. Ion tersebut merupakan bahan oksidator yang kuat, sehingga meskipun pada kondisi pH rendah dan oksigen terlarut sedikit, dapat mengoksidasi dengan cepat.

Kemudian, dari filter mangan zeolit air selanjutnya dialirkan ke filter karbon aktif untuk menghilangkan polutan mikro, seperti zat organik, deterjen, bau, senyawa phenol, logam berat, dan lain-lain. Setelah melalui filter karbon aktif, air dialirkan ke filter cartrige ukuran 0,5 mikron untuk menghilangkan sisa partikel padatan yang ada di air, sehingga air menjadi benar-benar jernih.

Selanjutnya, air dialirkan ke sterilisator ultraviolet agar seluruh bakteri atau mikroorganisme yang ada di air dapat dibunuh secara sempurna. Untuk lebih aman lagi, bisa dilengkapai dengan ozon generator yang diinjeksikan setelah filter cartridge. ‘’Air yang keluar dari sistem ini sudah siap minum,” imbuhnya.

Dalam kaitannya dengan sinar UV, ia menegaskan bahwa sinar ini sangat berbahaya jika kena mata. Jadi, jangan percaya jika ada yang memberitahu bahwa sinar biru keunguan yang sering menyala di setiap peralatan depot air isi ulang adalah sinar UV. Bukan sinar itu yang bisa membunuh bakteri, itu cuma lampu akuarium.

“Kalau semua proses itu dijalani, peralatannya mahal. Tak aneh jika kemudian ayang memangkas proses itu,” tuturnya.

Pemotongan proses dengan menekankan pada sterilisasi dengan sinar UV dan ozonisasi. Jadi proses penghilangan bau, polutan mikro, logam berat, dan sebagainya diabaikan. Alasannya, air sumbernya sudah bagus. Jadi tinggal membunuh bakterinya.

Begitulah kekhawatiran Tika terhadap kemasan maupun isi ulang air minum. Kepala Disperindag Tanjungpinang, Drs H Efiyar M Amin turut berkomentar di media ini kemarin. Ia menganjurkan seharusnya galon bekas, apalagi yang sudah rusak, tidak boleh digunakan lagi. Begitu juga dengan penggunaan merek orang lain. Penggunaan galon bekas, khususnya yang sudah rusak sangat tidak dibenarkan sebab dapat mempengaruhi kualitas air di dalamnya.

‘’Kita ingin usaha ini berkembang dengan baik, namun tetap memerhatikan kualitasnya. Galon yang bagus ada lapisan pelindung di dalamnya dan ada batas waktunya,’’ katanya di koran ini, kemarin.

Tika masih saja bertanya dalam hati, semuanya tergantung nurani. Tak ada pengusaha yang ingin merugi, namun dengan proses pengolahan air yang sesuai aturan dan standarisasinya dipatuhi, ia yakin pelanggan akan memilihnya. “Kalau tidak, biarlah saya masak air sendiri. Semoga air ledeng lancar mengalir,” katanya.

Sumber: Tanjungpinang Pos

Next Page »

Harga Pergalon

Jemput: Rp.9.000

Antar: Rp.10.000

Pesan Antar

Tlp. 0771-20772

HP. 081275815001

DIAN-RO