Depot Air Minum Diduga Mengandung Bakteri E-Coli

September 29, 2014

Karena diduga mengandung bakteri E-coli, yaitu bakteri yang menyebabkan diare pada manusia, Dinas Kesehatan Kabupaten Lingga membekukan pengoperasian depot air minum isi ulang di Kecamatan Singkep Barat. Pembekuan operasi dilakukan sampai ada  hasil uji laboratorium terkait dugaan produksi air minum galon yang mengandung bakteri e-coli. Selain diduga mengandung bakteri, depot air minum tersebut juga tidak menjaga kebersihan depot tempat usahanya. Sehingga menambah faktor penunjang sebab dibekukannya depot tersebut.

“Untuk sementara waktu, kami meminta pemilik depot untuk menunda pendistribusian air minum kepada masyarakat. Hasil pemeriksaan laboratorium pada sampel air dari salah satu depot, kami mendapati air tersebut mengandung bakteri e-coli,” ujar Kepala Seksi Lingkungan Dinkes Kabupaten Lingga Sri Dewi, Senin (24/3).

Awalnya, pihak Dinkes hanya melayangkan surat pembekuan bagi operasional depot air minum tersebut. Sepertinya, peringatan ini tidak diacuhkan oleh pemilik depot. Maka, Dinkes Kabutapan Lingga mengambil langkah tegas dengan menutup tempat usaha tersebut.

”Kami sudah melakukan pengecekan ke depot. Kami menemukan lumut pada pipa pengisian ke galon. Di samping itu, depot bersebelahan dengan toko bahan bangunan. Inilah yang diduga mempengaruhi kualitas air minum,” ungkapnya.

Berdasarkan data dilapangan Dinkes di Kabupaten Lingga sangat kewalahan melakukan pembinaan terhadap para pelaku usaha air minum isi ulang. Pasalnya, beberapa tempat usaha ini banyak yang tidak mengikuti peraturan tentang kebersihan. Padahal kebersihan adalah syarat utama agar kualitas air minum yang diproduksi tetap baik dan terjaga.

Berbeda dengan depot air minum Reverse Osmosis DIAN-RO Tj Pinang yang selalu menjaga kebersihan tempat usahanya. Alhasil segala perizinan yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang dapat dengan mudah didapat.

Sumber : Tanjungpinang Pos, dengan sedikit tambahan.

Instalasi Air Minum Reverse Osmosis RSAL Tanjungpinang

June 2, 2014

Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Tanjungpinang dalam proses pegembangannya akan membuat instalasi air layak minum. Peningkatan pelayanan air minum, Metode Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) menjadi pilihan. SWRO merupakan teknologi khusus pengolahan air minum dari hasil pengolahan air laut. Sebagaimana disampaikan oleh Gubernur Kepulauan Riau HM Sani dalam sambutannya ada 2 konteks penting dalam pelayanan prima untuk masyarakat, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan terbaik untuk masyarakat walaupun diketahui bersama dalam perjalanannnya belum bisa terpenuhi namun dalam pengembangannya harus terus di kembangkan terutama kebutuhan dasar masyarakat yaitu kebutuhan air dan kebutuhan kesehatan. Terutama untuk kebutuhan air minum merupakan kebutuhan yang sangat didambakan oleh masyarakat Tanjungpinang dan sekitarnya. Ketersediaan air baku yang semakin tidak memadai akibat dari jumlah penduduk yang semakin bertambah, mendorong untuk mengembangkan teknologi pengolahan air minum RO atau reverse osmosis yang salah satunya adalah SWRO ini. SWRO di Tanjungpinang ini merupakan pilot proyek yang terbesar dan sangat mendesak dengan kapasitas 50 liter per detik yang bisa memenuhi kebutuhan air minum untuk 4.000 pelanggan.

 

 

Menjaga kebersihan filter

May 26, 2014

Dalam dunia usaha depot air minum isi ulang, menjaga kebersihan filter sangat penting sekali, bahkan menjadi prioritas utama. Hal ini dimaksudkan agar produk air minum yang dihasilkan dapat tetap terjaga kualitasnya. Depot air minum isi ulang ro dian-ro sangat memperhatikan hal tersebut. Kami sadar akan pentingnya menjaga kebersihan filter-filter yang ada di depot dian-ro. Sehingga pelanggan kami yang sudah menjalin hubungan pembelian dengan depot air minum reverse osmosis kami selama 1 tahun lebih sejak berdirinya depot dian-ro di Tanjungpinang ini tetap terjaga. Bahkan promosi dari mulut ke mulut pelanggan kami yang berada di kota melayu Tanjung Pinang ini yang merasa puas dengan kualitas air minum hasil penyaringan filtrasi reverse osmosis kami menjadikan promosi yang positif bagi depot air minum RO Dian-RO di TPI.

Air Minum RO DIANRO Naik Harga

January 9, 2014

Pengumuman…

Sejak Desember 2013 harga air minum isi ulang dengan teknologi penyaringan reverse osmosis (RO)  DIAN-RO naik harganya, dari yang tadinya Rp.6.000 pergalon menjadi Rp.7.000 pergalon, dimana harga tersebut sudah termasuk biaya antar. Kenaikan harga ini dikarenakan biaya operasional yang juga naik, terutama kenaikan BBM (bensin). Faktor lain yaitu nilai rupiah yang semakin anjlok terhadap nilai dollar (US dollar dan Singapore dollar) dimana berkaitan dengan sparepart maupun alat-alat penunjang operasional yang harus dibeli berdasarkan harga dollar.

Demi tetap terjaganya kualitas dari produk air minum isi ulang DIAN-RO yang memprioritaskan dalam memproduksi air minum reverse osmosis, maka dengan berat hati kami harus menaikkan harga jual pergalon antar.

DIAN-RO Depot air minum isi ulang dengan teknologi penyaringan reverse osmosis (RO).

Jl.Anggrek Merah, depan perumahan Anggrek Mas I, ruko no.5, Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri)

Cara Sederhana Menguji Kualitas Air Minum

March 27, 2013

Menguji kualitas air minum, khususnya air minum isi ulang galon, seperti kekeruhan, berwarna dan berbau dapat langsung diseteksi dengan panca indera. Air yang terlihat jernih dan tidak berbau belum tentu aman dikonsumsi untuk diminum. Karenanya perlu diuji kualitasnya apakah memenuhi syarat laik kesehatan ataukah tidak.
Analisa kualitas air minum isi ulang secara lengkap dan menyeluruh dapat dilakukan di laboratorium melalui Dinas Kesehatan di masing-masing daerah, untuk Tanjungpinang melalui Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang yang akan merujuk ke laboratorium BTKL atau PT.Sucofindo di Batam.  Pemeriksaan di laboratorium akan menghasilkan data yang lengkap dan bersifat kuantitatif, namun biayanya cukup mahal. Alternatif lain untuk bisa mengentahui layak tidaknya air minum kita untuk diminum bisa dilakukan dengan cara pengujian kualitas air minum secara sederhana dengan teknik konvensional.
Analisis secara sederhana dapat dilakukan sendiri di rumah untuk menguji kandungan kimia dalam air yang biasa kita minum, yaitu sebagai berikut :

  • Setengah gelas air minum yang akan diperiksa dicampurkan dengan segelas air teh.
  • Selanjutnya didiamkan dalam keadaan terbuka hingga satu malam
  • Periksalah apakah ada perubahan warna, lendir dan lapisan seperti minyak di permukaan.

Semakin cepat perubahan yang terjadi pada air teh menunjukkan semakin tinggi kandungan kimiawi air tersebut. Bila perubahannya lambat atau baru berubah setelah pengamatan satu malam, kandungan kimiawinya lebih sedikit, namun tetap air itu kurang baik dikonsumsi. Namum dapat digunakan untuk keperluan lain seperti mencuci, kecuali untuk diminum.
Air minum yang mengandung tingkat kesadahan dan kandungan logam tinggi dapat terlihat bila air teh berubah menjadi hitam, ungu atau biru. Bila air tetap berwarna seperti air teh, maka secara kimia kualitas air itu baik.

Gambar 1. Pengujian kandungan kimia air menggunakan air teh

Pengujian air secara biologis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  • Air yang diuji dimasukkan ke dalam gelas kemudian ditutup.
  • Air tersebut dibiarkan sampai lima hari
  • Setelah lima hari air diperiksa. Apabila terdapat perubahan warna atau gumpalan warna (putih, hitam atau hijau), maka air tersebut kurang baik secara biologis (mengandung mikroorganisme atau bakteri berbahaya).

Gambar 2. Pengujian Sifat Biologi Air Secara Sederhana

Air minum yang baik akan tetap jernih meskipun disimpan selama 5 hari. Semakin cepat terjadinya perubahan warna atau gumpalan pada air yang diperiksa menunjukkan semakin tinggi kadar mikroorganisme yang dikandungnya.

Sumber : www.idazweek.co.cc


Upaya Peningkatan Kualitas Depot Air Minum Isi Ulang di Indonesia

March 25, 2013

Jakarta, 21 februari 2013

Upaya Kementerian Kesehatan RI dalam upaya peningkatan kualitas air minum isi ulang di Indonesia, yaitu akan membuat edaran kembali ke semua Kepala Dinas Kesehatan Provinsi tentang pelaksanaan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes), serta menyempurnakan pedoman penyelenggaraan Higiene Sanitasi yang sudah ada sejak 2006. Kemudian terus menjaga mutu Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL), yang kini sudah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), dan memasukkan kegiatan ini dalam pilar 3 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat  (STBM).

Demikian informasi yang di sampaikan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, melalui pesan elektronik kepada Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenkes RI (21/2).

Ada beberapa aturan yang sudah ada mengenai depot air minum isi ulang. yaitu mengenai persyaratan kualitas air minum yang sudah diatur di Permenkes nomor 492 tahun 2010 tentang  ambang batas parameter wajib, misalnya mengenai mikrobiologi seperti (bakteri e-coli), mengenai kimia seperti (unsur-unsur kimia  argon, fluor, crom, dll), dan yang tidak berhubungan langsung seperti bau, suhu, dll), serta parameter tambahan yang jarang ditemukan. Selanjutnya, persyaratan kualitas air bersih sudah diatur di Permenkes nomor 416 tahun 1990 tentang ambang batas yang dibolehkan, jelas Prof. Tjandra.

Sementara itu, mengenai izin untuk membuka usaha “Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) ” atau kini banyak disebut sebagai “Depot Air Minum (DAM) “, di berbagai provinsi dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat, biasanya melalui badan perijinan terpadu yang akan meminta rekomendasi dari Dinas Kesehatan setempat, berdasar inspeksi sanitasi dan hasil pemeriksaan laboratorium termasuk Balai POM, Balai Teknik Kesehatan Linkungan (BTKL), kata Prof. Tjandra.

Tata laksana pengawasan kualitas air minum diatur oleh  Permenkes nomor 736 tahun 2010, secara internal pengawasan kualitas air minum isi ulang dilakukan oleh pengusaha. Secara eksternal pengawasan dilakukan oleh Dinas Kesehatan, dengan melakukan pemeriksaan laboratorium (di Balai POM, BTKL, dll), dalam Permenkes ini diatur ttg sanksi oleh Pemda, berupa peringatan sampai dengan pelarangan distribusi di wilayah, tambah Prof. Tajandra. Untuk kota Tg pinang (Tanjungpinang) pengawasan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang (Tgpinang).

Menurut Prof. Tjandra Proses kegiatan di usaha Depot Air Minum antara lain, harus mendapatkan air bersih dari berbagai sumber (PDAM, air ledeng, mata air, mobil tangki air, dll), dilakukan filtrasi, bisa dengan karbon aktif, juga mungkin ada proses dengan ozon, proses akhir a.l dengan sinar UV, pengemasan ke galon air.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id.

sumber: www.depkes.go.id.

Jika Bisnis Depot Air Minum Isi Ulang Abaikan Standar Kesehatan

March 23, 2013

Yayuk Tika terdiam beberapa lama di depan galon kemasan air isi ulang di dispenser. Seingatnya, bukan merek di galon itu yang awalnya dipesan. Rasanya juga berbeda.

NURALI MAHMUDI – Tanjungpinang

Rupanya, sang suami yang memesan air isi ulang di tempat lain. Ketika dicoba, rasanya berbeda dengan langganan sebelumnya. Namun apa boleh buat, kata suaminya, dengan ukuran yang sama, fasilitas pengantaran yang sama, harganya lebih murah dari depot air yang biasa ia beli.

Tentu muncul kekhawatiran di hati Tika, apalagi ia memiliki dua anak kecil yang setiap hari mengonsumsi air tersebut. Sebenarnya ia mau masak air minum di perumahannya, di Batu 12, lancar. Sayang, air ledeng masih sering macet.

Sebenarnya, ada pertanyaan di hati Tika, khususnya seringnya galon kemasan air isi ulang yang berganti-ganti merek. Padahal yang mengantarnya kadang sama. Maklumlah, air kemasan isi ulang yang dikonsumsi keluarga Tika bukanlah merek unggulan yang iklannya selalu ditayangkan di televisi.

Soal harga tentu saja alasannya. Apalagi di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sekarang begitu mudah dijumpai usaha air isi ulang. Mereknya tentu saja beragam. Tika tak tahu mana yang bagus, nyatanya semuanya menawarkan harga yang nyaris sama. Yang membedakannya paling hadiah yang diberikan jika berhasil mengumpulkan sekian voucher isi ulang.

“Yang saya minum sekarang memang lebih murah, karena yang punya teman bapaknya anak-anak,” ungkat Tika, di sebuah pusat belanja, dua hari lalu sekitar pukul 17.00.

Mengapa rasanya beda, meski sama-sama air isi ulang? Seorang teman lama, pengusaha peralatan depot isi ulang mengatakan terdapat beberapa jenis alat yang bisa dibeli. Semakin mahal harganya tentu semakin bagus kualitas air yang dihasilkan.

Beberapa bagian juga diproduksi di negara maju, dengan kualitas yang mendukung kesehatan air yang dihasilkan. Ia memberikan paket-paket harga peralatan depot isi ulang. Dari harga di bawahg Rp10 juta hingga puluhan juta. Jika murah, filternya bisa tak sebanyak jika membeli paket yang agak mahal.

Ia juga mengakui, untuk membuat usaha air minum isi ulang sekarang sangat mudah. Izin dari dinas terkait, yaitu Dinas Kesehatan Tanjungpinang Kota, itu pasti sebagai tanda usahanya legal dan airnya memenuhi standar. Hanya saja ia menyayangkan jika ada pebisnis yang di kemudian hari memproduksi air asal-asalan hanya untuk mencapai target penjualan yang dikalkulasikan dengan gaji pegawai serta sewa tempat.

Beberapa tahun lalu, jika ingin membuka usaha air minum isi ulang, harus mencari sumber mata air di bawah bukit. Kalau di Pulau Bintan sekitar Gunung Lengkuas atau Gunung Bintan. Namun sekarang lebih enak, asalkan air ledeng hidup sudah bisa mencoba bisnis ini.

Teman ini kemudian menyodorkan beberapa hal seputar air minum isi ulang. Air yang layak minum mempunyai standar persyaratan tertentu, yakni persyaratan fisis, kimiawi, dan bakteriologis. Jika satu parameter saja tidak memenuhi syarat maka air tersebut tidak layak untuk diminum. “Misalnya rasanya aneh atau bau, ini erat kaitannya dengan teknologi yang dipakai oleh si penjual,” katanya.

Ia mengatakan, bisa saja pelaku bisnis ini memproduksi air tak lengkap prosesnya. Proses lengkap bisa dari air ledeng atau sumur dipompa dengan menggunakan pompa jet, sambil diinjeksi dengan larutan kaporit atau kalium permanganat. Dari sini air dialirkan ke tangki reaktor. Dari tangki reaktor, air dialirkan ke saringan pasir cepat untuk menyaring oksida besi atau oksida mangan yang terbentuk di dalam tangki reaktor.

Setelah disaring dengan saringan pasir, selanjutnya air dialirkan ke filter mangan zeolit. Di sini zat besi atau mangan yang belum sempat teroksidasi oleh khlorine atau kaporit dihilangkan. “Zat besi biasanya membuat air tidak enak kalau diminum,” katanya.

Sedangkan pembubuhan kaporit dimaksudkan untuk mengoksidasi zat besi atau mangan yang ada di dalam air, serta untuk membunuh kuman atau bakteri Escherichia coli atau lebih dikenal dengan E.coli. Reaksi oksidasi besi atau mangan oleh khlorine atau kaporit akan menghasilkan ion hipokhlorit. Ion tersebut merupakan bahan oksidator yang kuat, sehingga meskipun pada kondisi pH rendah dan oksigen terlarut sedikit, dapat mengoksidasi dengan cepat.

Kemudian, dari filter mangan zeolit air selanjutnya dialirkan ke filter karbon aktif untuk menghilangkan polutan mikro, seperti zat organik, deterjen, bau, senyawa phenol, logam berat, dan lain-lain. Setelah melalui filter karbon aktif, air dialirkan ke filter cartrige ukuran 0,5 mikron untuk menghilangkan sisa partikel padatan yang ada di air, sehingga air menjadi benar-benar jernih.

Selanjutnya, air dialirkan ke sterilisator ultraviolet agar seluruh bakteri atau mikroorganisme yang ada di air dapat dibunuh secara sempurna. Untuk lebih aman lagi, bisa dilengkapai dengan ozon generator yang diinjeksikan setelah filter cartridge. ‘’Air yang keluar dari sistem ini sudah siap minum,” imbuhnya.

Dalam kaitannya dengan sinar UV, ia menegaskan bahwa sinar ini sangat berbahaya jika kena mata. Jadi, jangan percaya jika ada yang memberitahu bahwa sinar biru keunguan yang sering menyala di setiap peralatan depot air isi ulang adalah sinar UV. Bukan sinar itu yang bisa membunuh bakteri, itu cuma lampu akuarium.

“Kalau semua proses itu dijalani, peralatannya mahal. Tak aneh jika kemudian ayang memangkas proses itu,” tuturnya.

Pemotongan proses dengan menekankan pada sterilisasi dengan sinar UV dan ozonisasi. Jadi proses penghilangan bau, polutan mikro, logam berat, dan sebagainya diabaikan. Alasannya, air sumbernya sudah bagus. Jadi tinggal membunuh bakterinya.

Begitulah kekhawatiran Tika terhadap kemasan maupun isi ulang air minum. Kepala Disperindag Tanjungpinang, Drs H Efiyar M Amin turut berkomentar di media ini kemarin. Ia menganjurkan seharusnya galon bekas, apalagi yang sudah rusak, tidak boleh digunakan lagi. Begitu juga dengan penggunaan merek orang lain. Penggunaan galon bekas, khususnya yang sudah rusak sangat tidak dibenarkan sebab dapat mempengaruhi kualitas air di dalamnya.

‘’Kita ingin usaha ini berkembang dengan baik, namun tetap memerhatikan kualitasnya. Galon yang bagus ada lapisan pelindung di dalamnya dan ada batas waktunya,’’ katanya di koran ini, kemarin.

Tika masih saja bertanya dalam hati, semuanya tergantung nurani. Tak ada pengusaha yang ingin merugi, namun dengan proses pengolahan air yang sesuai aturan dan standarisasinya dipatuhi, ia yakin pelanggan akan memilihnya. “Kalau tidak, biarlah saya masak air sendiri. Semoga air ledeng lancar mengalir,” katanya.

Sumber: Tanjungpinang Pos

Harga Pergalon

Jemput: Rp.9.000

Antar: Rp.10.000

Pesan Antar

Tlp. 0771-20772

HP. 081275815001

DIAN-RO